RSS

Instalasi Rehabilitasi Medik

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Pelayanan kebidanan merupakan praktek pelayanan kesehatan yang spesifik, reflektif, dan analisis diselenggarakan secara mandiri dan professional, sesuai dengan pengertian tersebut dipandang perlu memahami dan mampu menganalisa ilmu-ilmu dasar seperti fisika kesehatan dalam praktek kebidanan. Untuk itu mahasiswa STIKES Bina Usada Bali Program Studi D III Kebidanan, disiapkan melalui pemberian mata kuliah Fisika Kesehatan pada semester II untuk meningkatkan pemahaman mata kuliah tersebut perlu diberikan Praktek Labotarorium.



B.Tujuan

1.Umum
Mahasiswa mampu memahami hukum-hukum fisika kesehatan dan penerapannya dalam praktik kebidanan.

2.Khusus
Mahasiswa dapat mengidentifikasi :
a.Penerapan hukum-hukum Thermo Dinamika dalam kebidanan.
b.Penerapan prinsip-prinsip gaya dan analisis gaya dalam praktik kebidanan.
c.Penerapan Teori Gelombang, kecepatan dan sifatnya dalam praktik kebidanan.
d.Penerapan ultrasonik dalam praktik kebidanan.

C.Metode Praktik Laboratorium

1.Metode Praktik Langsung
Penulis mendapatkan informasi yang digunakan sebagai sumber dalam penulisan laporan ini berdasarkan dari hasil praktikum di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar.

2.Metode Kepustakaan
Penulis mendapatkan informasi yang digunakan sebagai sumber dalam penulisan laporan ini berdasarkan dari buku-buku penunjang kuliah kebidanan.

3.Metode Observasi
Penulis melakukan observasi pada beberapa pasien yang melakukan pemeriksaan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar.

4.Metode Diskusi
Penulis melakukan diskusi kelompok sehingga laporan ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

D.Sistematika Penulisan Laporan
Adapun sistematika penulisan laporan ini yaitu sesuai dengan urutan yang telah ditentukan dimulai dari :
1.BAB I PENDAHULUAN (latar belakang, tujuan praktik laboratorium, metode praktik laboratorium dan sistematika penulisan laporan).
2.BAB II TINJAUAN TEORI.
3.BAB III HASIL.
4.BAB IV PENUTUP (kesimpulan dan saran).


BAB II
TINJAUAN TEORI

Rehabilitasi medik adalah suatu bentuk pelayanan yang bersifat medis, sosial, edukasi dan vokasional.
Tujuan adanya instalasi rehabilitasi medik adalah adalah meningkatkan dan mempertahankan kemampuan fungsi tubuh dan kemandirian yang optimal, dengan cara mencegah terjadinya kelainan tubuh, mencegah dan mengatasi ketidakmampuan tubuh dan mencegah dan mengatasi ketunaan tubuh.
Instalasi Rehabilitasi Medik dibagi menjadi beberapa ruangan antara lain :
A.Instalasi
Ketua : Dr. A.A. Ayu Sri.
B.SMF
Anggotanya dokter-dokter spesialis rehabilitasi. Dimana bagian ini memberikan instruksi dan juga pelayanan pasien.
C.Bagian-bagian/Departemen
Bagian ini berhubungan dengan pendidikan. Sebagai ketua bagian ini adalah dr. Cok Dalem Kurniawan merangkap ketua bagian SMF.
D.Sub Bagian

1.Fisioterapi
Terbagi menjadi :
a.Terapi panas seperti terapi panas superficial (infra red, hidroterapi) dan terapi panas dalam (USD, MWD, SWD).
b.Terapi listrik seperti elektro stimulasi.
c.Terapi dingin.

2.OT (Okupasi Terapi)
Merupakan terapi kerja/aktifitas sehari-hari. Pasiennya adalah anak-anak dengan cerebral palsy (CP) yang merupakan kelainan gerak dan postur karena kerusakan otak saat immatur yang sifatnya progresif. Hal ini bisa terjadi dalam kandungan (prenatal), selama persalinan (perinatal) dan setelah lahir (postnatal). Ini bisa dideteksi melalui ANC.

3.OP (Ortotik Prostetik)
Merupakan bagian yang membuat alat-alat bantu untuk pasien.

4.Psikologi
Merupakan ruangan untuk pasien yang membutuhkan pengobatan psikis.

5.Terapi Wicara
Pasiennya adalah anak-anak yang kemampuan bicaranya kurang baik ataupun orang-orang tua yang mengalami stroke.

BAB III
HASIL

A.FISIOTERAPI

Saat kami melakukan praktik di bagian fisioterapi, kami tidak menemukan pasien. Namun berdasarkan informasi yang kami dapat dari ruangan tersebut, kami bisa sampaikan sebagai berikut.
Fisioterapi merupakan ilmu yang menitikberatkan untuk menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi alat gerak/fungsi tubuh yang terganggu yang kemudian diikuti dengan proses/metode terapi gerak. Fisioterapi terbagi menjadi terapi panas, terapi listrik dan terapi dingin.

1.Terapi Panas
Terapi panas adalah perlakuan terhadap tubuh menggunakan alat/obat yang bersifat panas. Terapi panas ini dapat diberikan setelah lewat 24-36 jam terjadinya cedera, maka perlu dilakukan terapi panas, hal ini bertujuan untuk mencerai-beraikan darah-darah yang menggumpal serta memperlancar peredaran darah di tempat cedera. Terapi panas juga digunakan langsung untuk nyeri otot dan kram. Pada nyeri otot dan kram, otot tersebut berada dalam keadaan tegang sehingga diterapkan terapi panas agar otot-otot tersebur dapat meregang kembali. Contoh terapi panas seperti terapi panas superficial (infra red, hidroterapi) dan terapi panas dalam (USD, MWD, SWD).
a.Indikasi
1)Efek analgesik.
2)Efek anti inflamasi.
3)Efek relaksasi  menurunkan spasme otot.
4)Efek sedatif.
5)Meningkatkan suhu jaringan.
6)Vasodilatasi  peningkatan blood flow.

b.Kontraindikasi
1)Radang akut.
2)Trauma akut.
3)Gangguan vaskular.
4)Hemorragig diathesis.
5)Malignancy.
6)PJK (Penyakit Jantung Koroner).
7)Gangguan sensasi.
8)Bayi dan orang tua.
9)Kehamilan (hati-hati).

c.Komplikasi
1)Luka bakar.
2)Katarak mata.
3)Nekrosis jaringan.
4)Kerusakan jaringan sekitar metal.
5)Iskemia kordis.
6)Dehidrasi.

2.Terapi Dingin
Adalah perlakuan terhadap tubuh menggunakan alat/obat yang bersifat dingin. Terapi ini dapat diberikan ketika pertama kali terkena cedera, baik itu memar atau luka robek yang menimbulkan pendarahan, maka perlu dilakukan metode R.I.C.E atau I.C.E yang berarti kita harus menggunakan terapi dingin.
R : Rest
I : Icing
C : Compression
E: Elevation
Hal ini bertujuan untuk mengecilkan kapiler darah sehingga pendarahan tidak melebar. Hal ini juga untuk mengurangi nyeri yang terjadi. Contoh dari terapi dingin adalah es, alkohol, ethil chlorin, dan lain-lain.
a.Indikasi
1)Trauma akut.
2)Rheumatoid arthritis.
3)Spasme otot dan spastisitas.
4)Myofascial pain syndromes.
5)Luka bakar.
6)Pengawetan jaringan.
7)Fasilitasi.

b.Kontraindikasi
1)Gangguan vaskuler.
2)Tidak tahan dingin.
3)Raynaud diseases.
4)Jaringan saraf perifer sedang tumbuh.
5)Psikologis.
6)Cryglobulinmia.
7)Alergi terhadap dingin.
8)Hipertensi (hati-hati).

c.Teknik Pemberian
1)Konduksi (masase es).
2)Konversi (kipas angin, AC).
3)Evaporasi (semprotan kloretil).
3.Terapi Listrik

Terapi listrik adalah jenis pengobatan arternatif yang menggunakan media listrik melalui sentuhan jari penterapis. Bermanfaat untuk melenturkan urat saraf, melancarkan peredaran darah, melunturkan lemak dalam darah (kolestrol), meningkatkan vitalitas tubuh, membakar kadar gula dan lain-lain.
Inti terapi listrik adalah melancarkan peredaran darah, mengaktifkan ion-ion dalam tubuh, dan memperbaiki kulitas darah. Satu kali sesi pengobatan hanya berlangsung 30 menit. Selama itu penterapis akan mengalirkan listrik di sekujur tubuh pasien, melalui simpul-simpul saraf di tangan, kaki, kepala, punggung, atau leher.
Terapi ini menggunakan kabel yang ditancapkan langsung ke listrik PLN 220 volt dan disalurkan ke sebuah konduktor. Terapis akan menyentuh konduktor itu. Dengan kemampuan individunya, terapis menyalurkan energi listrik yang aman dan dapat diterima oleh tubuh manusia. Jangan takut apabila energi listrik yang disalurkan terlalu menyengat, karena terapis dengan mudahnya dapat meregulasi atau menaik-turunkan kadar listrik yang mengalir ke pasien.
Cara kerja terapi ini bagi tubuh manusia adalah dengan menyeimbangkan ion-ion yang ada di tubuh manusia. Energi yang dihasilkan oleh tubuh kita akan menjadi seimbang bila terdiri dari 80 % ion-ion negatif dan 20 % ion-ion positif. Gaya hidup yang tidak sehat dan tingkat stress yang tinggi mempermudah datangnya ion-ion positif dalam tubuh kita. Ion-ion positif ini bila tidak dikurangi jumlahnya tentunya akan merusak keseimbangan dan berujung pada menurunnya kondisi kesehatan kita. Tubuh kita akan lebih cepat memproduksi ion negatif bila diberi stimulus.
Jadi kesimpulannya cara kerja terapi listrik adalah mempengaruhi tubuh kita supaya dapat lebih cepat memproduksi ion-ion negatif yang dapat melawan pengaruh buruk dari ion positif. Ion negatif yang cukup akan mengaktifkan sel tubuh, meningkatkan metabolisme, mengaktifkan kerja enzim-enzim pada tubuh dan juga bermanfaat dalam proses detoksifikasi zat-zat tidak berguna dalam tubuh.
a.Terapi listrik dapat mengobati berbagai penyakit, antara lain :
1)Asam urat.
2)Darah tinggi.
3)Kolesterol.
4)Keseleo.
5)Diabetes.
6)Stroke dini.
7)Lemah syahwat.
8)Rematik.
9)Vertigo.
10)Dan lain-lain.

b.Manfaat untuk kecantikan, antara lain :
1)Melancarkan darah sekitar wajah.
2)Mengencangkan kulit wajah.
3)Meregenerasi sel kulit wajah.
4)Memancarkan aura wajah.
5)Dan lain-lain.

c.Alat-alat terapi listrik

4.Terapi Ion Listrik
Alat terapi ion listrik adalah sebuah alat terapi kesehatan yang sedang booming di Indonesia. Banyak yang sudah merasakan manfaatnya. Terapi ion listrik ini memanfaatkan arus listrik untuk kesehatan badan.
Alat terapi ion listrik ini adalah sebuah alat yang bekerja dengan cara menghasilkan frekuensi anion di dalam air, menstimulasikan detoksifikasi dengan mengeluarkan ion-ion positif dan negatif dalam tubuh secara otomatis dan sinergis, sehingga menciptakan keseimbangan dengan mengeluarkan zat racun/toksin sampah metabolisme dari dalam tubuh.

B.OKUPASI THERAPI
Di ruang Okupasi Terapi terdapat 3 orang karyawan yaitu :
1.I Made Rahmayani
2.Dyah Myura Sari
3.Ericha Maurin Tambunan
Terapi okupasi adalah profesi kesehatan yang merupakan bagian dari rehabilitasi medik, bertujuan membantu individu dengan kelainan dan atau gangguan fisik, mental maupun sosial, dengan penekanan pada aspek sensomotorik dan proses neurologis. Hal itu dicapai dengan cara memanipulasi, memfasilitasi, dan menginhibisi lingkungan, sehingga individu mampu mencapai peningkatan, perbaikan, dan pemeliharaan kualitas hidupnya.
Contoh kemampuan motorik halus :
1.Menulis dan menggambar.
2.Mewarnai.
3.Menggunting dan menempel.
4.Mengancing baju.
5.Mengikat tali sepatu.
6.Melipat.
7.Dan lain-lain
Dalam memberikan pelayanan kepada individu, terapi okupasi memperhatikan aset (kemampuan) dan limitasi (keterbatasan) yang dimiliki anak, dengan memberikan manajemen aktifitas yang purposeful (bertujuan) dan meaningful (bermakna). Dengan demikian diharapkan anak dapat mencapai kemandirian dalam aktifitas produktifitas (sekolah/akademik), kemampuan perawatan diri (self care), dan kemampuan penggunaan waktu luang (leisure) serta bermain sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Biasanya yang membutuhkan terapi okupasi adalah:
1.Anak-anak yang mengalami keterlambatan keterampilan motorik halus. Ini merupakan salah satu hambatan tumbuh kembang yang bisa dialami anak secara umum.
2.Anak-anak dengan hambatan tumbuh kembang khusus (autisme, down syndrome, cerebral palsy).
3.Pasien stroke terkadang kehilangan kemampuan motorik halus dan terapi okupasi bisa membantu pasien melatih tangannya lagi.

C.ORTOTIK PROSTETIK
Saat kami melakukan praktikum di Instalasi Rehabilitasi Medik bagian Ortotik Prostetik (OP), kami mendapatkan informasi yang bisa kami jabarkan sebagai berikut.
Ruang Ortotik Prostetik ini terdiri dari 4 orang karyawan yaitu :
1.I Ketut Wartawan
2.Ketut Tumpuk
3.I Komang Arya Sedhana Artha
4.Aziz Setiawan
Ruang Ortotik Prostetik adalah sebuah ruangan yang berfungsi untuk membuat alat-alat bantu yang dibutuhkan pasien. Adapun alat-alat yang dibuat di ruangan ini adalah :
1.Munster Scoliosis Orthosis
Spinal orthosis yang digunakan untuk mengoreksi skoliosis (kelainan tulang belakang yang membengkok ke lateral/samping). Sistem kerja dengan 3 bagian titik tekan yang bertujuan untuk mengurangi sudut skoliosis sehingga diharapkan tidak akan terjadi kelainan yang lebih lanjut. MSO ini terbuat dari bahan polyetilene/polypropilene yang di desain khusus sesuai dengan derajat skoliosis pasien.
Polyetilene/polypropilene yaitu karbon hitam sebagai penstabil, pewarna untuk memberikan warna, serat kaca untuk peningkatan daya lentur, tarik dan karet butyl (butyl rubber) untuk mencegah terjadinya tekanan saat tidak digunakan. (Tata Surdia, 1999)
2.Prosthesis anggota gerak atas (tangan tiruan)
Merupakan salah satu bentuk anggota gerak tiruan yang dapat digunakan pada kasus-kasus amputasi anggota gerak atas akibat trauma maupun kongenital (cacat bawaan sejak lahir), jenis prosthesis ini mempunyai dua fungsi baik untuk aspek kosmetikum maupun aspek fungsional.
3.Prosthetic leg (kaki palsu)
Adalah pembantu dan alat ganti tubuh yaitu kaki palsu, dimana dalam kasus ini pada umumnya terjadi karena beberapa faktor yaitu genetik atau cacat lahir, kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan kerja dimana seseorang harus kehilangan anggota tubuhnya, dan faktor lainnya seperti peperangan dan bencana alam.
4.Brace
Adalah penyangga kaki Post Polio atau kaki lumpuh agar penderita polio dapat berjalan. Jenis-jenis brace antara lain :
1)Knee Brace

2)Long Leg Brace

3)Two rissing brace

4)Log Brace

5)Ankle Brace

5.Tongkat

6.Sepatu ortopediksus

Sepatu ortopedi adalah salah satu cara terapi kecacatan yang ada hubungannya dengan kecacatan kaki (telapak, engkel, struktur tulang, tungkai panjang sebelah, dan lain-lain) baik karena congenital ataupun karena masalah pertumbuhan. Bentuk kaki bayi yang cenderung membentuk huruf O juga dapat menggunakan sepatu ini. Kelainan pada kaki anak sehingga harus menggunakan sepatu ortopedi yaitu:
a.Kaki ceper.
b.CTEV merupakan kelainan bawaan pada kaki bayi dimana kaki berputar ke dalam sehingga telapak kaki menghadap ke belakang, kelainan ini juga disertai oleh lengkungan kaki bagian dalam yang lebih tinggi.
c.Condinital talites yaitu kelainan sejak lahir dan tidak ada penyebabnya.
d.Clubfoot (talipes) adalah suatu keadaan dimana bentuk atau posisi kaki terpuntir.
Lengkung kaki bisa sangat tinggi atau kaki berputar ke dalam maupun ke luar.
Clubfoot sejati disebabkan oleh kelainan anatomis. Jika tidak terdapat kelainan anatomis, maka keadaan ini bisa diperbaiki dengan pemasangan gips dan terapi fisik. Pengobatan dini dengan gips bisa memperbaiki clubfoot sejati tetapi biasanya perlu dilakukan pembedahan. Sebelum garis born dokter spesialis menggif 6-7 kali. Sedangkan pelepasan sepatu ortopedi tergantung dari dokter yang bersangkutan.

D.RUANG PSIKOLOGI
Pada saat kami melakukan praktik di ruangan Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar sedang tidak ada pasien. Tapi dari hasil wawancara kami dengan salah seorang staf di ruangan Psikologi tersebut dapat kami peroleh informasi sebagai berikut:
Di ruang psikologi terdiri dari 3 orang staf yaitu :
1.Dra. Retno Indaryati
2.Ni Made Nanda Setia Lestari, S.Psi.
3.Mirah Ayuningtyas, S.Psi.
Dalam ruang psikologi terbagi menjadi 2 divisi yaitu :
1.Divisi Test
Dalam divisi ini setiap satu orang pasien akan mendapatkan satu jenis test dengan rincian sebagai berikut :
a.Test IQ
Test ini adalah untuk pasien anak dengan usia 5 tahun ke atas. Fungsi dari test ini adalah untuk mengukur tingkat intelegensi anak. Untuk test IQ anak, di sini diberikan melalui metode permainan seperti puzzle. Tujuan diberikan permainan puzzle ini adalah untuk mengetahui rentang konsentrasi anak. Seberapa banyak anak dapat menyelesaikan puzzle. Sedangkan untuk dewasa test IQ berupa pertanyaan kualifikasi diri.
b.Test SQ
Test ini adalah untuk pasien anak dengan usia 5 tahun ke bawah. Fungsi dari test ini adalah untuk mengetahui kemandirian/kematangan sosial dari seorang anak. Test SQ lebih banyak berfokus pada anamnesa dari orang tua, seperti apakah anak sudah bisa naik sepeda atau sudah bisa mengancingkan baju. Misalnya orang tua berkata anak sudah bisa mengancingkan baju namun masih terbalik-terbalik, maka petugas akan memberikan point sesuai dengan keterangan orang tua. Namun ini juga kembali dilihat ke anaknya sendiri misalnya saat si anak dipanggil namanya apakah anak ada respon seperti menoleh atau respon apapun. Setelah itu petugas juga akan memberikan point. Setelah test selesai dilakukan, maka point tersebut akan dijumlahkan sehingga diketahui hasil testnya.
c.Test minat bakat/psikotes
Salah satu test ini adalah menggunakan gambar-gambar (test grafis). Test minat bakat ini untuk orang dewasa. Fungsi dari test ini adalah untuk melihat minat dan bakat seseorang. Disini dilihat apakah minat seseorang itu ditunjang oleh bakat yang dimiliki. Biasanya psikotes ini diperlukan untuk mencari pekerjaan. Karena ada beberapa perusahaan yang mensyaratkan agar disertai lampiran test ini dalam melamar pekerjaan. Test minat bakat RSUP Sanglah Denpasar ini sudah terjamin kualitasnya apabila seseorang ingin melakukan test ini. Di sini dilihat kemampuan seseorang untuk jabatan yang sesuai. Karena tidak jarang seseorang memiliki sebuah minat namun tidak didukung oleh bakatnya. Misalnya saja seseorang yang memiliki minat menjadi seorang sekretaris yang metode kerjanya di dalam ruangan, namun dari hasil test bakatnya menunjukkan bahwa ia lebih sesuai untuk bekerja di lapangan. Disinilah peran dari psikotest ini.
2.Divisi Terapi
Divisi ini dibagi menjadi dua divisi lagi yaitu :
a.Terapi Remidial
Pasien yang mengikuti terapi ini biasanya pasien tumbuh kembang, pasien ADD (gangguan pusat perhatian) ataupun pasien ADHD (gangguan pusat perhatian ditambah dengan hiperaktif). Pada test ini diperlukan kontinyuitas dan konsistensi karena durasi pasien berada di rumah sakit untuk mendapat terapi ini hanya kurang lebih 30 menit, selebihnya waktu pasien akan dihabiskan di rumah ataupun di sekolah, maka dari itu diperlukan kontinyuitas dan konsistensi melakukan terapi ini tidak hanya di rumah sakit tetapi juga di rumah ataupun di sekolah.
b.Terapi Bermain/Perilaku
Pasien yang mengikuti terapi ini adalah anak yang susah bicara, gangguan pendengaran, autis ataupun down syndrome. Anak yang mengalami susah bicara sebelumnya akan di test pendengaran dahulu, karena mungkin saja anak yang susah bicara mengalami gangguan pendengaran sehingga tidak bisa mendengar kata-kata dan otomatis tidak dapat mengulangi kata-kata tersebut. Biasanya anak yang autis seakan-akan seperti memiliki dunia sendiri, sehingga tidak memedulikan lingkungan sekitar. Namun tidak semua orang yang susah berbicara itu autis, bisa saja itu karena pengaruh orang tua yang jarang mengajak anak berkomunikasi atau hanya mendudukkan anak di depan televisi sepanjang hari tanpa disertai dengan komunikasi dua arah. Sedangkan pasien dengan down syndrome adalah penyakit dimana kromosom ke 23 seseorang tidak membelah secara sempurna dan biasanya mengalami kelambatan berbicara serta gangguan konsentrasi. Test jenis ini menggunakan permainan-permainan edukatif. Pada pasien dewasa diberikan psikoterapi.
Pasien pada ruang psikologi ini juga berasal dari dalam rumah sakit, yaitu 3 ruangan antara lain dari poli anak (tumbuh kembang), pasien poli dan pasien ruangan. Umumnya pasien ruangan ini berasal dari ruangan Leli, yaitu suatu ruangan untuk pasien dengan gangguan jiwa.
Pasien dengan gangguan jiwa bisa saja melakukan tindakan yang berbahaya seperti bunuh diri. Di sinilah peran dari pengobatan ruangan psikologi ini. Pasien tersebut akan ditest IQ terlebih dahulu. Jika diketahui bahwa IQ pasien tersebut rendah, maka dapat disimpulkan bahwa pemikiran pasien tersebut pendek sehingga daya tahan psikologisnya untuk menghadapi suatu permasalahan sangatlah kurang sehingga pasien cenderung ingin lari dari kenyataan permasalahan yang membelitnya melalui tindakan bunuh diri. Namun jika didapati hasilnya bagus, kita perlu berpikir kembali mengapa pasien dengan IQ yang bagus ingin melakukan tindakan bunuh diri padahal seharusnya ia bisa berpikir ke depan lebih panjang dan daya tahan terhadap permasalahannya harusnya lebih tinggi. Di sini perlu kita curigai pasien tersebut ingin mencari perhatian dari keluarga ataupun orang-orang terdekatnya.
Pada unit ini juga bisa menerima pasien dengan diagnose kanker. Karena pasien dengan kanker bisanya akan mengalami stress dan depresi, apalagi jika diketahui kankernya sudah dalam stadium yang lanjut. Jadi, pasien kanker ini membutuhkan pendampingan. Pasien ini akan di tempatkan di sebuah ruangan yaitu ruangan paliatif, dimana di sini diberikan pendampingan utnuk memperpanjang harapan hidup dengan berkumpul bersama dengan orang-orang yang juga mengidap kanker tapi bisa tetap bertahan meskipun kankernya sudah lebih parah. Hal ini akan memberikan kekuatan pada pasien karena ada perasaan senasib dan hal ini akan menjadi motivasi bagi pasien.
Di sini bisa juga menerima pasien dengan HIV/AIDS namun jarang. Di sini disediakan FGD (Focus Group Disscussion) dimana akan diberikan motivasi untuk sembuh bagi pasien.
Durasi seorang pasien menjalani pengobatan pada unit psikologi ini biasanya berkisar antara 20 menit dan yang terlama 45 menit tergantung dari kebutuhan pasien. Karena ada pasien terutama anak-anak yang tidak betah berlama-lama untuk terapi seperti bermain. Jadi harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Penanganan pasien di unit ini satu persatu, tidak masuk beberapa sekaligus. Durasi untuk test IQ, SQ ataupun psikotest sendiri berlangsung selama 30 menit sampai dengan 1 jam.

E.TEMU WICARA
Pada ruang temu wicara terdapat 4 orang petugas yaitu :
1.Sity Nursani
2.Made Satryaningsih
3.Putu Nopiyana Rahma Putri
4.A.A. Ayu Winda Pradnyanita
Dalam ruang temu wicara kami menemui seorang pasien dengan identitas sebagai berikut:
Nama : “KD”
Alamat : Kintamani, Bangli.
Umur : 3 tahun.
Anamnesa: tuli, bisu.
Untuk pengobatannya dapat dijelaskan dengan uraian di bawah ini yang juga disertai dengan informasi yang kami dapatkan seputar terapi di ruangan Temu Wicara.
Terapi wicara adalah suatu ilmu yang mempelajari perilaku komunikasi normal/abnormal yang dipergunakan untuk memberikan terapi pada penderita gangguan perilaku komunikasi, yaitu kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran, sehingga penderita mampu berinteraksi dengan lingkungan secara wajar.
Kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran terjadi karena adanya penyakit, gangguan fisik, psikis ataupun sosiologis.
Kelainan ini dapat timbul pada masa prenatal, natal maupun postnatal. Selain itu penyebabnya bisa dari herediter, congenital maupun aqcuired.
1.Kelainan komunikasi dibedakan menjadi :
a.Kelainan Bicara
Merupakan salah satu jenis kelainan berkomunikasi yang ditandai adanya kesalahan proses produksi bunyi bicara, baik itu yang terjadi pada POA (Point of Articulation) dan/atau MOA (Manner of Articulation).

1)Disaudia
Gangguan bicara/artikulasi yang berhubungan dengan adanya kesulitan/gangguan feedback auditory, dapat terjadi karena gangguan pendengaran.
2)Dislogia
Kelainan berkomunikasi yang disertai dengan kerusakan mental. Rendahnya kecerdasan menyebabkan kesulitan dalam mengamati serta mengolah dalam pembentukan konsep dan pengertian bahasa.
3)Disartria
Kelainan bicara akibat gangguan koordinasi otot organ bicara sehubungan adanya kerusakan/gangguan sistem saraf pusat maupun perifer.
4)Disglosia
Kelainan bicara akibat adanya kelainan bentuk dan/atau struktur organ bicara, khususnya organ artikulator.
5)Dislalia
Gangguan artikulasi yang disebabkan ketidaknormalan di luar organ wicara dan bukan dikarenakan kerusakan sistem saraf pusat maupun perifer dan psikologis tetapi merupakan gangguan fungsi artikulasi.
b.Kelainan Bahasa
Merupakan salah satu jenis kelainan berkomunikasi, dimana penderita mengalami kesulitan/kehilangan kemampuan dalam proses simbolisasi bahasa. Kelainan ini diakibatkan oleh adanya kerusakan otak dan diartikan sebagai kerusakan sebagian atau seluruh dari pemahaman bahasa, perumusan dan penggunaan bahasa. Tidak termasuk gangguan yang dihubungkan dengan berkurangnya sensor primer, keadaan mental yang memburuk dan gangguan psikis.
1)Afasia perkembangan/anak.
2)Afasia dewasa.
c.Kelainan Suara
Gangguan suara yang utamanya disebabkan oleh aksi atau perilaku pita suara, intensitas suara dan/atau kualitas suara yang tidak sesuai untuk individu tersebut dalam kaitannya dengan usia, jenis kelamin atau lingkungan.
1)Kelainan kenyaringan suara.
2)Kelainan nada suara.
3)Kelainan kualitas suara.
d.Kelainan Irama/Kelancaran
1)Stuttering/gagap
Gangguan kelancaran bicara yang berupa adanya pengulangan, perpanjangan dan penghentian pada kata dan suku kata.
2)Cluttering
Gangguan bicara yang ditandai dengan adanya irama sangat cepat sehingga terjadi misartikulasi dan sulit dimengerti.
3)Palilalia
Kecenderungan mengulang kata atau phrase pada waktu mengucapkan kalimat.

Terapis wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau gangguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak. Terapis wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus.
1.Gangguan komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders (ASD) bersifat :
a.Verbal
b.Non verbal
c.Kombinasi
2.Area bantu dan terapi yang dapat diberikan oleh terapis wicara :
a.Untuk organ bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, maka :
terapis wicara akan mengikutsertakan latihan-latihan Oral Peripheral Mechanism Exercises maupun Oral-Motor Activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.

b.Untuk artikulasi atau pengucapan
Artikulasi atau pengucapan menjadi kurang sempurna karena adanya gangguan, latihan untuk pengucapan diikutsertakan cara dan tempat pengucapan (place and manners of articulation). Kesulitan pada artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi :
1)Substitution (penggantian), misalnya rumah menjadi lumah, l/r.
2)Omission (penghilangan), misalnya sapu menjadi sapu.
3)Distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi).
4)Indistinct (tidak jelas).
5)Addition (penambahan).
Untuk articulatory apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain proprioceptive neuromuscular.
c.Untuk bahasa : aktifitas-aktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah :
1)Phonology (bahasa bunyi).
2)Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata.
3)Morphologgy (perubahan pada kata).
4)Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa.
5)Discourse (pemakaian bahasa dalam konteks yang lebih luas).
6)Metalinguistics (bagaimana cara bekerjanya suatu bahasa).
7)Pragmatics (bahasa dalam konteks sosial).
d.Suara
Gangguan pada suara adalah penyimpangan dari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpangan-penyimpangan lainnya dari atribut-atribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.
e.Pendengaran
Bila keadaan diikutsertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan terapi yang dapat diberikan :
1)Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan dirujuk pada dokter yang terkait.
2)Terapi; penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi.
3.Peran Khusus dari terapi Wicara adalah mengajarkan suatu cara untuk berkomunikasi.
a.Berbicara
Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional (termasuk bahasa reseptif/ekspresif – kata benda, kata kerja, kemampuan memulai pembicaraan dan lain-lain).
b.Penggunaan alat bantu (Augmentative Communication)
Gambar atau simbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa.
1)Penggunaan alat bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal)
2)Alat bantu itu sendiri sebagai bahasa bagi yang memang non verbal.
4.Dimana terapis wicara bekerja
a.Di rumah sakit , pada bagian rehabilitasi.
Biasanya bekerja sama dengan dokter rehabilitasi bersama tim rehabilitasi lainnya (dokter, psikolog, physioterapis dan terapis okupasi).
b.Di sekolah biasa
Tidak umum di Indonesia. Pada bagian penerimaan siswa baru, biasanya bekerja sama dengan guru, psikolog dan konselor. Menangani permasalahan keterlambatan berbahasa dan berbicara pada tahap sekolah dan memantau dari awal murid-murid dengan kesulitan atau gangguan berbicara tetapi masih dapat ditangani dengan pemberian terapi pada tahap sekolah biasa.
c.Di sekolah luar biasa
Pada bagian terapi wicara, bekerja sama dengan guru dan profesional lainnya pada sekolah tersebut. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi.
d.Pada klinik rehabilitasi
Praktek di bawah pengawasan dokter, biasanya dengan tim rehabilitasi lainnya.
e.Praktek perorangan
Praktek sendiri berdasarkan rujukan, bekerja sama melalui networking. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi.
f.Home visit
Mendatangi rumah pasien untuk pelayanan-pelayanan di atas dikarenakan ketidakmungkinan untuk pasien tersebut bepergian ataupun dengan perjanjian.

BAB IV
PENUTUP

A.KESIMPULAN
1.Mahasiswa mampu memahami dan mengidentifikasi hukum-hukum fisika kesehatan yaitu thermo dinamika, prinsip gaya dan analisis gaya, teori gelombang, kecepatan dan sifatnya serta ultrasonik.
2.Mahasiswa mampu memahami penerapan hukum-hukum fisika dalam praktik kebidanan.

B.SARAN
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan makalah ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar