RSS

Masalah Single Parent

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Masalah Single Parent Karena Tinggal Terpisah
Single parent yang terpisah dengan pasangan karena bekerja/belajar di kota/negara lain, memiliki beberapa masalah, seperti :
1.merasa kesepian,
2.tidak terpenuhinya kebutuhan seks sementara secara de jure ia seharusnya bisa mendapatkan pemenuhan kebutuhan seks dari pasangannya,
3.saat pasanganya berada jauh darinya, ia juga merasa berat membesarkan anak sendiri,
4.peran ganda : dimana seseorang harus berperan sebagai ibu atau ayah, sebagai pendidik dan kepala keluarga, sebagai pengatur rumah tangga dan pencari nafkah,
5.ancaman kesehatan : akibat peran ganda yang dijalani, wanita akan mengalami gangguan kesehatan seperti kelelahan, kecapean, kurang gizi, sehingga mengakibatkan angka kesakitan meningkat, hal ini diakibatkan karena kondisi fisik yang sering dipergunakan untuk melakukan suatu aktivitas secara berkelanjutan,



6.emosi labil : seseorang merasa tidak senang atau tidak puas dengan keadaan diri sendiri dan lingkungannya, rasa tidak puas ini mengakibatkan emosi seseorang tersebut menjadi labil dimana ia akan mengalami perasaan cemas, tidak berdaya, depresi dan mudah tersinggung.

2.2.Masalah Single Parent Karena Kematian Pasangan
Hal ini terjadi bila salah satu pasangan meninggal maka seseorang akan menjadi single parent. Seseorang yang menjadi single parent karena kematian juga mengalami masalah yang berat. Kematian pasangan yang mendadak membuat ia tidak siap menerima kenyataan. Namun jika mendapatkan pelayanan pendampingan/konseling yang tepat, ia dapat melalui masa-masa gelapnya. Idealnya, ia harus mendapatkan konseling kedukaan yang tepat sehingga kedukaannya tidak berlarut-larut (tidak lebih dari 6 bulan). Kedukaan yang berlarut-larut memperlambat pemulihan hati anak-anaknya. Selain itu, beberapa single parent yang ditinggal mati pasangannya mengalami masalah keuangan, ancaman kesehatan, peran ganda dan merasa kesepian.

2.3.Masalah Single Parent Karena Perceraian
Dibandingkan dengan kedua jenis single parent di atas, single parent yang berpisah dengan pasangannya karena perceraian, memiliki masalah yang lebih serius lagi. Setidaknya tercatat ada 6 masalah besar, yaitu :
1.Masalah emosional.
2.Masalah hukum (hak asuh anak, dan lain-lain).
3.Menjalin hubungan baik dengan mantan suami/istri.
4.Menghadapi anak.
5.Masalah dengan lingkungan.
6.Masalah keuangan.
7.Masalah kesehatan.
8.Peran Ganda

Kondisi emosional single parent pasca perceraian :
1.Kecewa.
2.Marah.
3.Mencari kambing hitam.
4.Membenci mantan suami/istrinya.
5.Cemburu terhadap rivalnya.
6.Mudah marah kepada anak-anak.
7.Luka batin/trauma.
8.Kesepian
9.Merasa tak berharga.
10.Merasa teraniaya oleh lingkungan.
11.Mengasihani dirinya sendiri

Masalah single parent pasca cerai dengan anak-anaknya :
1.Single parent yang belum mengampuni dan masih membenci mantan suami/istrinya akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak-anaknya.
2.Single parent seringkali tidak menyadari bahwa ia bukan "super man/super women" sehingga di depan anak-anaknya ia berusaha menunjukkan dirinya perkasa dan dapat menyelesaikan segala sesuatu tanpa orang lain. Ia tidak melihat bahwa anak-anaknya memerlukan tokoh pengganti ibu/ayah.
3.Single parent pasca perceraian juga mengalami masalah dengan mantan pasangannya. Karena pengalaman pahitnya, seorang single parent sering tidak menyadari bahwa sejelek apapun mantan suami/istri-nya, ia tetap ayah/ibu dari anak-anaknya. Sebelum single parent mengampuni mantan pasangannya, ia cenderung ingin balas dendam. Beberapa single parent bahkan melakukan usaha balas dendam balas dendam kepada mantan pasangannya, dengan memanfaatkan anak-anaknya.

Apa yang dibutuhkan seorang single parent saat menghadapi situasi yang sulit pasca perceraiannya?
1.Single parent perlu menjalani konseling pribadi untuk membagi beban/pergumulannya.
2.Jika diperlukan, single parent juga bisa menjalani terapi untuk recovery dari trauma-traumanya. Untuk mencapai pemulihan, seorang single parent mau tidak mau harus mengampuni diri sendiri. Selanjutnya single parent juga harus mengampuni mantan pasangaannya. Kalau seorang single
parent merasa disakiti oleh pihak ketiga, mertua atau orang lain di sekitarnya, maka single parent tersebut juga harus mengampuni mereka.
3.Dukungan sosial/komunitas teman senasib (sesama single parent) juga dibutuhkan untuk menguatkan hati seorang single parent. Setidaknya, dalam persekutuan dengan kaum senasib, seorang single parent merasa tidak sendiri. Sesama single parent tentunya akan lebih mudah mengerti perasaan satu sama lain dan berempati dengan kawan senasibnya.
4.Mendidik anak bersama-sama pasangan saja tidak mudah, apa lagi untuk menjadi single parent yang harus mengasuh dan membesarkan anak seorang diri. Oleh sebab itu, seorang single parent membutuhkan pengetahuan/ketrampilan single parenting yang memadai supaya bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Tanpa ketrampilan single parenting, seorang single parent akan mengalami kesulitan bagaimana menolong anak-anak untuk keluar dari trauma dan kepahitan hidupnya.
5.Seorang single parent juga perlu melatih diri untuk bersikap bijaksana terhadap lingkungan.
6.Untuk mengatasi masalah ekonomi, seorang single parent membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan/memanfaatkan talentanya dalam kegiatan-kegiatan produktif. Mungkin sementaraa ini ada beberapa orang berpikir untuk memberikan santunan sosial kepada single parent. Namun kita perlu hati-hati, pemberian bantuan cuma-cuma atau santunan sosial justru bisa merendahkan martabat dan harga diri seorang single parent. Bantuan yang berdasarkan rasa kasihan atau iba juga dapat memanjakan dan "memiskinkan" single parent. Artinya, bantuan cuma-cuma tidak akan "memerdekakan" seorang single parent.
7.Perceraian dengan pasangan seringkali merusak harga diri seorang single parent. Bahkan tidak sedikit single parent yang kehilangan makna hidupnya gara-gara ditinggalkan/bercerai dengan pasangan. Untuk membantu single parent menemukan kembali makna hidupnya, seorang single parent bisa dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sosial atau kerohanian. Namun hal ini baru bisa dilakukan setelah sang single parent mampu menenangkan anak-anaknya.

2.4.Upaya Penanggulangan Masalah
Upaya yang dapat dilakukan bidan untuk menanggulangi masalah yang terjadi pada single parent adalah dengan memberikan konseling :
1.Manajemen waktu
Penentuan prioritas kegiatan dan pengaturan jadwal kegiatan dalam tanggung jawab pemenuhan kebutuhan keluarga.
2.Berpikir lebih positif dalam menanggapi masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
2.1.Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan.
2.2.Dukungan ego (ego support)
Seseorang yang mengalami kelabilan emosi, akan mengalami stress, down (tidak bersemangat) ketika mengalami masalah, oleh karena itu dukungan dan perhatian dari seorang teman, sahabat ataupun keluarga terdekat akan mampu memberikan kekuatan moral dan semangat hidup untuk dapat mengatasi masalahnya dengan sebaik-baiknya.
2.3.Bina hubungan yang baik dengan mantan pasangan ataupun keluarga mantan pasangan. Dalam masa perkembangan, seorang anak tetap membutuhkan figur orang tua yang lengkap. Agar perkembangan anak dapat berjalan dengan baik, komunikasi antara anak dengan ayah tetap harus dilakukan.

2.5.Kasus Masalah Single Parent
S adalah seorang single parent karena perceraian. Akibat perceraiannya tersebut ia harus menghidupi seorang anak hasil pernikahannya dan juga ayah dan neneknya yang kini sakit-sakitan. Ia merupakan satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarganya. Ia bekerja sebagai pegawai pada suatu perusahaan. Tapi gajinya yang tidak seberapa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan kini anaknya yang sedang mengenyam bangku SMP serta ayah dan juga neneknya memerlukan biaya yang sangat banyak. Belum lagi tanggung jawab yang lain yang ia harus pikul sendiri seperti biaya untuk upacara keagamaan serta biaya kegiatan kemasyarakatan. Namun hal ini tidak menyurutkan semangatnya. Ia bertekad agar anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Ia tetap bersemangat untuk merawat ayah dan neneknya. Meskipun ia harus meminjam uang dimana-mana. Sehingga setiap waktu menerima gaji, gajinya selalu terpotong untuk membayar hutangnya. Tak jarang gajinya itu min. Dan tak jarang pula, dimana umumnya seseorang mendapat imbalan atas kerjanya selama sebulan, S harus menyetorkan sejumlah uang untuk membayar hutang-hutangnya yang ia pinjam ke perusahaan.
Keinginannya yang besar untuk tetap merawat keluarganya dengan tangannya sendiri ini pulalah yang menyebabkan ia mengurungkan niatnya untuk menikah lagi. Ia takut ketika menikah nanti ia akan mengalami hal menyakitkan serupa yang ia alami sebelumnya. Ia juga takut ketika menikah nanti ia tidak bisa merawat anak serta orang tua dan neneknya.
Menjadi single parent terutama karena perceraian terutama untuk seorang wanita, di masyarakat tentu secara otomatis akan mendapatkan suatu citra yang buruk. Hal inilah yang juga dialami oleh S. Meskipun tidak sampai dikucilkan, teetapi ia selalu mendapat citra buruk dari masyarakat yang tidak senang padanya. Sungguh berat beban yang ia rasakan. Ketika harus menanggung perekonomian keluarganya sendirian, ia harus menerima cemoohan dari orang-orang yang tidak menyukai kehadirannya.
Ia juga harus berperan sebagai ayah dan ibu agar sang anak tidak kehilangan sosok ayahnya. Segala hal yang harus ia tanggung sendirian itu memang sangat berat. Namun berkat dorongan dan cinta kasih yang diberikan oleh keluarga terutama anaknya membuat ia menjadi single mother yang begitu kuat. Karena hal itulah juga membuatnya bersyukur sehingga tidak mengambil jalan pintas seperti bunuh diri atau melakukan hal-hal yang tidak benar demi mendapatkan uang seperti yang dialami oleh beberapa orang yang mengalami himpitan ekonomi dengan statusnya sebagai single parent. Ia tidak akan menyerah dengan keadaannya saat ini. Fokusnya kini adalah bagaimana ia bisa menghidupi keluarganya dengan jerih payahnya sendiri tentunya dengan cara yang benar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar