RSS

Pendidikan Sebagai Indikator Penting Dalam Permasalahan Kespro

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pendidikan dalam Arti Luas
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan , pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,akhlak mulia, setra keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

2.2 Konsep Pemikiran Tentang Kesehatan Reproduksi Perempuan
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka wanita sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh sebab itu wanita, seyogyanya diberi perhatian sebab :



1. Wanita menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya
2. Kesehatan wanita secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.
3. Kesehatan wanita sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatas namakan “pembangunan” seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.
4. Masalah kesehatan reproduksi wanita sudah menjadi agenda Intemasional diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo).
5.Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.
Jadi perempuan adalah makhluk yang unik. Kenapa unik, karena perempuan juga dikatakan ujung tombank dari kelurga, perempuan bisa hamil, melahirkan keturunan, sebagai pendidik anak dan mengrus rumah tangga, bahkan perempuan juga bisa membantu suami mencari nafkah.
Jadi perempuan juga berhak mendapat pendidikan yang tinggi, karena bisa digunakan sebagai bekal dalam menjalani tugasnya sebagai istri dan memberikan keturunan yang berkualitas pula.

2.3 Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Berdasarkan Konferensi Wanita sedunia ke IV di Beijing pada tahun 1995 dan Koperensi Kependudukan dan Pembangunan di Cairo tahun 1994 sudah disepakati perihal hak-hak reproduksi tersebut. Dalam hal ini (Cholil,1996) menyimpulkan bahwa terkandung empat hal pokok dalam reproduksi wanita yaitu :
1.Kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health)
2.Penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making)
3.Kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women)
4.Keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security)
Adapun definisi tentang arti kesehatan reproduksi yang telah diterima secara internasional yaitu : sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistim, fungsi-fungsi dan proses reproduksi. Selain itu juga disinggung hak produksi yang didasarkan pada pengakuan hak asasi manusia bagi setiap pasangan atau individu untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarakan anak, dan menentukan kelahiran anak mereka.

2.4 Indikator Permasalahan Kesehatan Reproduksi
Dalam pengertian kesehatan reproduksi secara lebih mendalam, bukan semata-mata sebagai pengertian klinis (kedokteran) saja tetapi juga mencakup pengertian sosial (masyarakat). Intinya goal kesehatan secara menyeluruh bahwa kualitas hidupnya sangat baik. Namun, kondisi sosial dan ekonomi terutama di negara-negara berkembang yang kualitas hidup dan kemiskinan memburuk, pendidikan yang rendah secara tidak langsung memperburuk pula kesehatan reproduksi wanita. Di dalam makalah ini yang akan di angkat adalah bagaimana pengaruh pendidikan terhadap kesehatan reproduksi.

2.5 Pengaruh Pendidikan
Kemiskinan mempengaruhi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Kesempatan untuk sekolah tidak sama untuk semua tetapi tergantung dari kemampuan membiayai. Dalam situasi kesulitan biaya biasanya anak laki-laki lebih diutamakan karena laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Dalam hal ini bukan indikator kemiskinan saja yang berpengaruh tetapi juga jender berpengaruh pula terhadap pendidikan. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi tingkat kesehatan. Orang yang berpendidikan biasanya mempunyai pengertian yang lebih besar terhadap masalah-masalah kesehatan dan pencegahannya. Minimal dengan mempunyai pendidikan yang memadai seseorang dapat mencari liang, merawat diri sendiri, dan ikut serta dalam mengambil keputusan dalam keluarga dan masyarakat.
Karena tidak mempunyai latar pendidikan yang bagus atau putus sekolah, maka kebanyakan orang tua menikahkan anaknya di usia dini. Jadi masih banyak sekali masyarakat awam yang belum tau, pada umur berapakah yang paling bagus untuk perempuan dan laki – laki menikah. Hal ini dimaksudkan agar mentalnya dan organ reproduksi sudah matang dan nantinya mampu menghasilkan keturunan yang bagus, serta menuju kea rah kesejahteraan keluarga.
Di negara berkembang termasuk Indonesia kawin muda pada wanita masih banyak terjadi (biasanya di bawah usia 18 tahun). Hal ini banyak kebudayaan yang menganggap kalau belum menikah di usia tertentu dianggap tidak laku. Ada juga karena faktor kemiskinan, orang tua cepat-cepat mengawinkan anaknya agar lepas tanggung jawabnya dan diserahkan anak wanita tersebut kepada suaminya. Ini berarti wanita muda hamil mempunyai resiko tinggi pada saat persalinan. Di samping itu resiko tingkat kematian dua kali lebih besar dari wanita yang menikah di usia 20 tahunan. Dampak lain, mereka putus sekolah, pada akhirnya akan bergantung kepada suami baik dalam ekonomi dan pengambilan keputusan.
Selain kawin muda, hal yang juga perlu diperhatikan adalah masalah gizi dalam keluarga setelah menikah. Jika pendidikan seorang wanita, atau wawasannya luas, maka seorang perempuan akan mampu memilah dan memilih makanan apa yang baik dan sehat untuk dirinya dan untuk kelurganya.
Menurut WHO di negara berkembang terrnasuk Indonesia diperkirakan 450 juta wanita tumbuh tidak sempurna karena kurang gizi pada masa kanak-kanak, akibat kemiskinan. Jika pun berkecukupan, budaya menentukan bahwa suami dan anak laki-laki mendapat porsi yang banyak dan terbaik dan terakhir sang ibu memakan sisa yang ada. Wanita sejak ia mengalami menstruasi akan membutuhkan gizi yang lebih banyak dari pria untuk mengganti darah yang keluar. Zat yang sangat dibutuhkan adalah zat besi yaitu 3 kali lebih besar dari kebutuhan pria. Di samping itu wanita juga membutuhkan zat yodium lebih banyak dari pria, kekurangan zat ini akan menyebabkan gondok yang membahayakan perkembangan janin baik fisik maupun mental. Wanita juga sangat rawan terhadap beberapa penyakit, termasuk penyakit menular seksual, karena pekerjaan mereka atau tubuh mereka yang berbeda dengan pria. Salah satu situasi yang rawan adalah, pekerjaan wanita yang selalu berhubungan dengan air, misalnya mencuci, memasak, dan sebagainya. Seperti diketahui air adalah media yang cukup berbahaya dalam penularan bakteri penyakit. Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan yang formal, tapi setidaknya seorang perempuan harus aktif mencari informasi terbaru supaya tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan hanya karena keterbatasan pengetahuan dan informasi.

2.6 Faktor Penyebab Rendahnya Pendidikan Seseorang
Pendidikan bukanlah harus ditempuh secara formal disekolah, namun bisa juga dari orang tua, pemerintah dan lingkungan sekitar. Adapun faktor – faktor yang memnyebabkan seseorang memiliki pendidikan yang rendah atau berwawasan yang kurang, yaitu sebagai berikut :
1.Kemiskinan, karena keterbatsan biaya orang tua yang tergolong tidak mampu, terpaksa tidak menyekolahkan anaknya, mereka malah mempekerjakan anaknya untuk memperoleh tambahan ekonomi.
2.Kurangnya kesadaran dari individu sendiri, jika seorang individu telah mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan dan telah dipercaya oleh orang tuanya, namun hal ini sering disalah gunakan. Maka yang timbul hanya rasa malas dan tidak semangat untuk menuntut ilmu.
3.Budaya dan Gender, masyarakat di Indonesia terutama di pedesaan masih teguh memegang budaya gender ini, dimana hanya anak laki – laki saja yang diutamakan untuk mengenyam pendidikan.
4.Kurangnya Perhatian Pemerintah dan Orang Tua, dimana yang dimaksud adalah, bagi orang tuanya yang tidak mampu menyekolahkan anaknya, maka pemerintah hendaknya aktif untuk memberikan penyuluhan atau berbagi informasi terbaru kepada masyarakat yang menengah bawah. Dan sebagai orang tua, jangan hanya sibuk bekerja mencari nafkah, tetapi hendaknya harus bisa membagi waktu untuk mendidik anak anknya, terutama anak yang tidak bersekolah, karena pendidikan bukan hanya bisa diperoleh di sekolah saja.

2.7 Pentingnya Pendidikan Kespro dan Seks Sejak Dini
Menurut Suryabrata (1998), proses pendidikan yaitu proses dimana pendidik dengan sengaja dan penuh tanggung jawab memberikan pengaruh kepada anak didik, demi kebahagiaan anak didik. Proses ini terjadi dalam suatu situasi yang menyangkut banyak sekali hal, seperti pergaulan antara pendidik dan anak didik, tujuan yang akan dicapai, materi yang diberikan dalam proses itu, sarana yang dipakai, lingkungan yang menjadi ajang proses itu, dan sebagainya.
Pendidikan kespro dan seks adalah proses dimana fasilitator dengan sengaja dan penuh tanggung jawab memberikan pengaruh yang positif kepada peserta pendidikan , dengan tujuan agar peserta pendidikan seks dapat mengerti dan memahami materi-materi yang diberikan dalam pendidikan seks, yang mencakup tentang perubahan-perubahan yang terjadi ketika memasuki masa remaja (perubahan fisik, psikologis, dan sosial), latar belakang diperlukannya pendidikan seks bagi remaja, tantangan menuju kesejahteraan seksual remaja, organ-organ seksual pria dan wanita, fertilisasi (pembuahan), perkembangan janin, bentuk-bentuk perilaku seksual remaja, akibat-akibat yang dapat ditimbulkan dengan melakukan perilaku seks bebas, penyakit-penyakit menular seksual dan jenis-jenisnya, cara mengatasi gejolak seksual remaja, pengertian dan makna seksualitas, serta nilai-nilai seksual pria dan wanita.
Raditya (2008) mengemukakan bahwa penyampaian materi pendidikan seks, sebaiknya diberikan oleh pendidik teman sebaya atau disebut dengan peer educator. Pendidik ini sudah mendapat bekal pelatihan yang cukup agar materi yang disampaikan dapat diterima oleh usia remaja.
Karena kita, sebagai warga Negara Indonesia, yang masih awam sekali membicarakan hal – hal yang berkonotasi pada seks dan organ reproduksi, maka akan lebih menarik bila tenaga pendidik atau pemberi informasi adalah teman sebayanya. Apalagi seorang wanita, karena kebanyakan wanita masih malu – malu mengungkapkan hal tersebut.

2.8 Pentingnya Saling Berbagi Informasi
Saling berbagi informasi yang tepat dan relevan tentang kesehatan reproduksi, PMS, dan seks, merupakan hal yang sangat penting bagi perempuan. Apalagi bagi perempuan yang tidak memiliki latar belakang yang formal hal ini sangat membantunya untuk menambah wawasannya mengenai kesehatan reproduksi. Pendidikan dan konseling yang berbasis klinik merupakan hal yang sangat penting dalam upaya peningkatan wawasan tentang kesehatan reproduksi dan seks bagi semua orang terutama perempuan. Demikian pula dalam penidikan kelurga, orang tua mengambil peranan yang sangat penting dalam hal ini. Setelah anaknya remaja, seorang tua hendaknya mendidik anak mereka tentang bagaimana itu reproduksi dan seks, agar anak mengerti dan tau apa dampak bila menikah muda, setra bagaimana cara merawat organ reproduksi. Dalam hal ini Ibu harus mengambil peran yang utama, karena anak perempuan biasanya lebih dekat dengan ibu, dan ibu juga lebih dulu mengalaminya.
Selain itu, informasi juga bisa didapat dari teman sebaya, atau sahabat. Karena menurut penilitian, anak remaja perempuan lebih mersa nyaman menceritakan keluhan intimnya kepada sahabt perempuannya. Dengan demikian orang tua juga harus tau dengan siapa anaknya berteman berbagi informasi, supaya anak tersebut tidak terjerumus ke dalam hal – hal yang negative, termasuk seks bebas.

2.9 Pendidikan Kespro dan Seks Pranikah
Membantu remaja dan generasi penerus bangsa agar tetap bersekolah dan menuntut ilmu dengan focus pada remaja merupakan hal yang sangat penting bagi setiap upaya dalam meningkat kesehatan reproduksi remaja. Pendidikan sekolah dan penyuluhan akan membantu kaum muda mengembangkan keterampilan dan memperoleh informasi yang dapat membantu mereka bertahan dalam kehidupan ini yang semakin kompleks, dan memberikan mereka ketrampilan untuk mengurus kesehatannya masing – masing dan juga kesehatan keluarganya. Dengan bersekolah juga membantu remaja putrid untuk menunda pernikahan dan kelahiran anak pertama. Di Kolombia misalnya, 46% remaja putrid dengan pendidikan dasar 7 tahun melahirkan pada usia 20 tahun. Di Meksiko, wanita tanpa pendidikan dasar punya kemungkinan tiga kali lebih besar untuk menikah dan mempunyai anak di usia 20 tahun, dan di Mesir kemungkinannya adalah lima kali lebih besar, karena tidak memiliki kesibukan menuntut pendidikan dan kurangnya wawasa mengenai pernikahan, kespro dan seks, makan akan membuat seorang remaja putrid lebih cepat menikah.
Di berbagai Negara, pendidikan kespro dan seksulitas, menjadi bagian dari kurikulum sekolah untuk siswa – siswi yang lebih tua. Penilitian mengenai program pendidikan kespro dan seksualitas di Negara maju menemukan program yang efektif, antara lain adalah :
1.Memfokuskan pada penguranagn prilaku yang berakibat pada penularan PMS/HIV serta kehamilan yang tidak diinginkan.
2.Memberikan informasi dasar yang tepat dan akurat mengenai berbagai resiko berhubungan seks yang tidak terlindung/tidak aman.
3.Mengajarkan kaum muda atau remaja cara menunda hubungan seksual dengan seks education.
4.Mengembangkan keterampilan berkomunikasi.
5.Mengembangkan model tentang cara menolak hubungan seksual yang tidak diinginkan/
6.Membantu remaja memahami masyarakat dan pengaruh lainnya di masyarakat luas.
Penelaah terhadap 35 penelitian yang dilakukan di Negara maju maupun di Negara berkembang menyimpulkan bahwa pendidikan seksualitas berbasi sekolah dan penyuluhan ke desa – desa tidak menyebabkan terjadinya hubungan seks lebih dini dan juga tidak mengakibatkan bertambahnya kegiatan seksual remaja atau kaum muda. Sebaliknya justru sepangaruh dari program yang ditelaah memberikan bukti bahwa pendidikan seksual justru berdampak pada penundaan seks dini, penuruna kegiatan seks, serta meningkatnya kesehatan reproduksi pada remaja putri. Program yang mendukungn penundaan kegiatan seksual yang disertai dengan informasi menganai seksama dan kontrasepsi ternyata lebih efektif dibandingkan dengan program yang hanya mendukung abstinensi ( tidak berhubungan seks ). Program ini akan lebih efektif jika diperkenalkan pada remaja dan kaum muda sejak dini sebelum memutuskan untuk menikah.

2.10 Upaya dalam Peningkatan Pengetahuan Kespro Sejak Dini
1.Program Penjakauan Berbasis Masyarakat
Adalah suatu program penting terutama bagi kelompak masyarakat yang putus sekolah, remaja jalanan, dan remaja putrid yang memiliki kesempatan terbatas untuk keluar dari lingkungan. Proyek berbasis masyarakat seperti ini menggunakan berbagai cara untuk menarik perhatian masyarakat terutama anak remaja. Dimana di tempat ini selain adanya penyuluhan dari petugas kesehatan kegiatan ini juga diselingi dengan permainan dan kegiatan bekerja mencari uang. Di Meksiko kelompok masyarakat seperti ini, sudah berhasil membentuk kelompok teater dengan tema pendidikan kespro dan seks sehingga nantinya bisa dipentaskan dan bisa ditonton banyak orang.
2.Program Kesehatan di Tempat Kerja
Program ini dapat menjadi slah satu sumber penting bagi kaum pria dan wanita dalam memperoleh informasi mengenai kespro. Sebagai contoh di Thailand, tempat kerja di Thailand memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi bagi para pekerja wanita yang tinggal di asrama tempat kerja. Teman sebaya yang telah dilatih memberikan penyuluhan menggunakan berbagai media popular seperti komik, dan buku novel sebagai media dalam menyebarluaskan pendidikan kespro bagi semua pekerja disana.
3.Klinik Berbasis Sekolah
Klinin sudah banyak berkembang di Negara maju dan Negara berkembang. Pelayanan yang diberikan bervariasi dan yang paling penting gratis, sehingga bisa terjangkau oleh masyarakat kelas bawah. Pelayanan yang sering diberikan adalah, konseling pranikah dan kemilan pertama, PMS, konseling pemilihan alat kontrasepsi dan penyuluhan tengtang kespro secara menyeluruh.
Semoga program seperti ini cepat berkembang di Indonesia, sehingga siapaun dan dari keluarga manapun bisa mendapat pendidikan yang sangat berguna bagi kehidupan kedepannya, karena banyak sekali pada jaman sekarang ini bermunculan penyakit yang berhubungan denga kesehatan reproduksi bahakan sampai mengakibatkan kematian.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar